Gunung Merapi, a nostalgia: part 2

… continued

besok sorenya setelah dapet surat tugas, kami berangkat ke atas sekitar jam 16:30, hujan deras. sempat nyasar, saya dan andin sampai juga di posko utama dan berkumpul dengan temen-temen relawan lain dari farmasi USD. setelah berunding, akhirnya ditetapkan beberapa orang yg bisa dan bersedia untuk menginap, termasuk saya, icha dan andin. lalu ditetapkan personil-personil untuk jaga di tiap posko. kami dibimbing oleh pihak dinkes menuju tiap posko, mulai dari yg paling bawah sampai paling atas. kalau tidak salah ingat total ada 4-5 posko. kebetulan saya, icha, andin (yg kemudian disebut “sepaket”) ditempatkan di pos glagaharjo, sekitar 11 km dari puncak merapi.

jadi relawan, buat saya pribadi, adalah hal yg sangat memorable, tidak terlupakan. terutama di glagaharjo. selama jadi relawan saya ketemu orang-orang baru yg menyenangkan maupun ngga menyenangkan. selama jadi relawan saya pun menghadapi konflik di lapangan, yg mengingatkan saya pada beberapa dosen yg sering bilang “jalan kalian di lapangan itu ngga mulus, pasti kalian banyak menghadapi konflik, baik itu melibatkan kalian atau tidak”. selama jadi relawan saya banyak belajar, terutama mengaplikasikan ilmu yg saya dapet di kuliah, yg menurut saya ngga akan mungkin bisa saya aplikasikan klo saya ngga jadi relawan (kecuali mungkin pas KKN atau PKL). misalnya saya belajar secara langsung menganalisis penyakit pasien. catatan: saya menganalisis, bukan mendiagnosis. mendiagnosis penyakit itu tetap ranah kerja dokter, dan kami farmasis ngga boleh menyimpang. ketika ada pasien yg mendesak perlu obat tapi ngga ada dokter yg memberikan resep, kami setidaknya ngerti obat-obat untuk terapi simptomatik. saya belajar edukasi ke pasien waktu memberikan obat, saya juga diajari mengukur tekanan darah secara intensif oleh dokter, dan saya belajar melakukan homecare ke pasien. selama jadi relawan, terutama di glagaharjo, saya tidur sambil duduk berbalut pakaian basah bekas kehujanan, tanpa selimut, kedinginan. itupun kalau sempat tidur. sebelum matahari terbit kami bangun dan turun kembali ke paingan lalu kuliah. alhasil duduk paling depan dan tidur. maaf, bapak dan ibu dosen.. :p

salah satu hal yg paling saya ingat adalah waktu di glagaharjo, sekitar jam 23:30 ada seorang ibu datang ke posko kesehatan membawa anaknya yg berusia 5 tahun. waktu itu yg sedang jaga malam selain saya, icha dan andin, ada seorang dokter muda. kebetulan saya menemani dokter muda itu waktu memeriksa si anak, tapi saya lebih memerhatikan pemeriksaan dan reaksi si anak. apalagi setelah kami perhatikan, dahi anak itu memar dan agak benjut. ketika mas dokter melakukan pemeriksaan fisik, anak itu tampak mau menangis. saya jadi bersimpati sama si anak (memang dasarnya terharu lihat anak kecil nangis). tapi waktu kami memberikan obat sekaligus edukasi, dan di akhir kami bilang “cepet sembuh ya dek”, adek itu sekilas tersenyum kecil sebelum pergi. saya dan teman-teman malah tertegun dan langsung merasa adem. saya pikir “ya ampun, adeknya senyum”. kami bertiga langsung semacam terharu. setiap kali ingat moment itu saya tersenyum. satu kalimat sederhana “cepat sembuh ya” bisa membuat anak kecil itu tersenyum dan mungkin merasa lebih baik. kali berikutnya kami ke situ, adik itu sudah bermain-main bareng teman-teman sebayanya.

- to be continued

Gunung Merapi, a nostalgia: part 1

sudah hampir satu tahun Gunung Merapi terakhir kali meletus. tepatnya tanggal 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus untuk pertama kalinya setelah tahun 2006. letusan yg mengeluarkan wedhus gembel, belum larva pijar, namun sudah menelan cukup banyak korban. saya pertama kali mendengar kabar itu dari TV, sepulang kuliah di sore hari. yap, padahal saya tinggal di jogja dan gunung itu bisa terlihat dari kampus saya, tapi saya tidak langsung tahu kabar itu, karena kegiatan perkuliahan yg padat membuat saya tidak sempat menengok ke arah gunung merapi yg sudah beberapa hari berstatus “awas” (#sok sibuk). sore itu banyak teman saya di luar jogja yg menghubungi saya dan bertanya “lo ngga ngungsi?”, “lo gimana disana? merapi meletus kan?”, “jangan pergi jauh-jauh ya klo ngga ada kepentingan”. nyokap saya sendiri? “oya? merapi udah meletus? mama belum nonton berita daritadi” -.- bokap saya? malam itu belum khawatir. malam itu saya menghabiskan banyak waktu nongkrong di kamar temen kos sambil nonton berita, menunggu kabar selanjutnya dari si merapi. besoknya, sambil naik ke ruang kelas di kampus saya melihat gunung merapi dan berpikir “begitu deketnya ini gunung sama gue, begitu deketnya korban-korban itu dari gue, sama-sama di jogja, tapi gue ngga melakukan apa-apa untuk ngebantu mereka”. dan terpikirlah bahwa seharusnya saya bisa membantu mereka, minimal membantu dari segi finansial. ternyata setelah kuliah pertama selesai salah satu temen menyuarakan ide saya, saat kami sedang ngobrol, “eh kita bantu korban merapi yuk, ngapain kek, masa kita deket gini tapi ngga ngapa-ngapain”. dan ternyata banyak temen yg punya pemikiran yg sama. akhirnya kami sekelas mengedarkan tas yg direlakan untuk jadi kantong uang sukarela. siangnya, kami terima kabar klo ternyata JMKI – Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia – di fakultas memang memfasilitasi bantuan berupa uang. maksudnya mereka memang mengedarkan kotak-kotak sumbangan di tiap kelas untuk korban merapi. lebih siang lagi, jam 12, saat kuliah dosen saya bilang bahwa beliau membuka pendaftaran relawan dari fakultas. entah relawan di bagian logistik ataupun langsung terjun ke lokasi, beliau belum membagi. spontan saya dan 3 teman saya mendaftar: icha, andin, grandma toge. sorenya, semua yg berminat jadi relawan kumpul untuk briefing. dan sore itu juga, sebelum briefing, nyokap saya telpon, membahas kabar merapi yg korbannya semakin banyak.

Nyokap: mama baru liat berita, ya ampun, serem ya. kamu lagi dimana?

Saya: di kampus, aku mau jadi relawan ma, bentar lagi briefing

Nyokap: hah, jadi relawan? aduh, hati-hati lho, jangan terlalu deket sama gunungnya, mama khawatir..

Saya: ngga lah ma, penduduknya kan juga udah diungsiin ke tempat yg aman, ngga mungkin di deket gunungnya

setelah briefing, kelompok relawan yg dikoordinir oleh Jono dibagi menjadi 3 kelompok: kesekretariatan, logistik, tim kesehatan. kesekretariatan ngurusin surat-surat ijin sehubungan dengan klo ada relawan yg terpaksa ijin dari kegiatan perkuliahan, dan surat penugasan untuk di posko, juga membuat ID card untuk para relawan (saya sendiri merasa cukup keren karena dapet ID card relawan, macam di tipi-tipi). tim logistik menerima, mendata dan mengirim bantuan berupa barang yg datang. tim kesehatan langsung terjun ke posko-posko yg ada untuk membantu petugas kesehatan lain (dokter, perawat). sore itu diputuskan beberapa relawan pergi ke lokasi untuk survey obat-obatan. beberapa mahasiswi profesi, beberapa mahasiswi 2007, dan beberapa mahasiswi 2008 termasuk saya dan 3 teman saya. situasi di atas (daerah Kaliurang) waktu itu masih hujan abu.

kami pulang ke kost masing-masing untuk siap-siap. reaksi anak-anak kost saya, “mau kemana?”

saya: ke atas,survey obat

mereka: oh,jadi relawan?

saya: iya

mereka: hati-hati ya,saya doakan semoga selamat!

saya: … amin

saat kami semua sudah berkumpul di hall utara, Jono (setelah terima telpon) bilang, “temen-temen, barusan aku hubungi pihak di posko, katanya kita ngga bisa kesana tanpa surat tugas”. Jono coba hubungi Pak Ipang selaku dekan fakultas mengenai surat tugas, tapi beliau ngga bisa dihubungi. akhirnya kami memutuskan menunda keberangkatan sampai besok, menunggu surat tugas dulu. saya, icha, andin, grandma malah balik arah ke XXI nonton R.E.D :p

- to be continued…

Yogyakarta

Jogja adalah salah satu kota yang bisa dibilang berkesan untuk saya. Banyak sekali pengalaman menarik dan unforgettable yang terjadi selama (ceritanya) saya kuliah di sini. Tapi pertama, seperti orang-orang pada umumnya, mungkin anda bertanya kenapa saya yang notabene anak Jakarta memilih untuk melancong ke Jogja untuk kuliah, instead of stay di Jakarta atau ke kota lain yang (kata orang) setara dengan Jakarta? Um.. sejujurnya saya sendiri sepertinya kurang punya alasan yang kuat. Waktu itu begitu saja hati saya memilih Jogja #sok puitis. Mungkin saya bosan tinggal di Jakarta, mungkin saya sudah lelah dengan suasana kota Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk dan polusi, yang ada cuma gedung dan gedung, mall dan mall – yah ada tamannya sih, tapi perbandingannya dengan gedung-gedung yang ada cuma seperberapa-nya #malah curhat. Perkiraan saya waktu itu, di Jogja suasananya akan lebih santai, tidak se-hectic di Jakarta. Catat, bukan etos kerjanya lho yang santai, tapi kehidupannya, lingkungannnya, um.. kehidupan sosialisasinya? Maksud saya, antar individu nggak perlu “saling gencet” karena persaingan yang ketat atau apa. Denger-denger kan penduduk Jogja ramah-ramah.. Anyway, setelah cukup perdebatan dengan orang-orang terdekat, akhirnya saya melancong ke Jogja, kuliah di Universitas Sanata Dharma Fakultas Farmasi sampai sekarang, dan ngekost di Paingan, kost 99999 tercinta.

Who knows what could happen
Do what you do
Just keep on laughing
One thing’s true
There’s always a brand new day

(Who Knows – Avril Lavigne)

Well, saya di Jogja ngga hanya kuliah pastinya. Kalau iya, menyedihkan sekali :p Terlepas dari apa yang saya dapatkan melalui proses perkuliahan maupun materi kuliah di kampus, mungkin kalau saya nggak jadi kuliah di Jogja, saya nggak akan jadi manusia seperti sekarang. Maksud saya, banyak sekali pengalaman yang melatarbelakangi saya mempunyai ataupun mengembangkan pemikiran tertentu. Mulai dari beradaptasi dengan lingkungan termasuk populasi yang didominasi oleh orang Jawa, masuk ke lingkungan yang sama sekali baru buat saya, bertemu dan berelasi dengan orang-orang yang sangat beragam, dari daerah yang beragam dan pola pikir yang beragam pula. Mulai menarik waktu saya memasuki semester 2. Di awal semester itu, pertama kalinya saya diopname di rumah sakit, dan pertama kalinya saya diinfus. Semuanya karena demam yang tidak kunjung turun akibat alergi obat antipiretik #sigh. Jadinya bukan demamnya turun malah berkembanglah reaksi alergi karena minum ibuprofen. Di akhir semester yang sama, untuk pertama kalinya saya kecelakaan motor alias keserempet, dengan hasil pertama kalinya tulang kaki saya mengalami fraktur. Waktu itu ketika perjalanan pulang dari Ganjuran dan Pantai Depok, karena terlalu ngebut. Keren.

Di Jogja pula, pertama kalinya saya perform di depan orang lumayan banyak, live with the song “Umbrella” popularized by Rihanna – akibat saudara Emmanuel Adit. Lalu di semester 5, untuk kedua kalinya saya kecelakaan motor. Tapi kali ini jatuh, bukan keserempet, akibat teman yang membonceng saya agak error. Hahaha. Hasilnya adalah beberapa luka luar yang tidak parah, dan trauma yang cukup keren. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah saat insiden letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober-November 2011. Saya dan beberapa teman sempat jadi relawan yang terjun langsung ke posko-posko di daerah Kaliurang, sekitar 10-20 km dari Gunung Merapi, selama sekitar 3 minggu. Saat-saat sebagai relawan betul-betul meninggalkan kesan yang tidak terlupakan buat saya (the detail is going to be published soon :D ). Saya dan beberapa teman beberapa kali menginap di posko yang jaraknya 10 km dari puncak Merapi, tidur-tidur ayam dengan pakaian basah dan kedinginan, pulang saat subuh untuk kuliah jam 7, dan akhirnya tidur saat kuliah. Nggak hanya saat jadi relawan, saat Paingan akhirnya menerima hujan kerikil dan hujan abu pun merupakan unforgettable moment. Hampir semua orang seketika itu juga pulang ke kampungnya atau mengungsi ke kampung siapapun yang bebas dari abu vulkanik Merapi. Saya? Secara tidak langsung terpaksa mengungsi ke Semarang, untuk mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) Beswan Djarum #grin.

Nah yang satu ini juga merupakan pengalaman berharga. Menjadi salah satu dari 350 Beswan Djarum yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Beswan Djarum itu apa? Maybe I’ll tell the detail in another post. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan dengan “status” Beswan Djarum itu. Mulai saja dengan bertemu orang-orang hebat sesama Beswan, terutama Beswan Jogja, yang mempunyai segudang prestasi, pola pikir dan visi yang berbeda-beda dan brilian, sehingga dari situ saya bisa mengambil pelajaran dari mereka, sampai berbagai “fasilitas” dan pelatihan yang diberikan oleh PT Djarum (catat: saya tidak sedang promosi) yang bermanfaat.

Melalui berbagai unforgettable events-slash-moments yang saya terima dan alami, lantas saya berpikir, kalau saja saya dulu memutuskan untuk tidak jadi kuliah di Jogja, mungkin saya tidak akan menjadi relawan dalam bencana alam apapun, karena katakanlah saya kuliah di Jakarta, paling-paling bencana yang melanda adalah banjir, dan banjir-nya pun “sekedar banjir” #bukannya meremehkan. Kalau saya nggak jadi kuliah di Jogja, saya nggak akan bertemu teman-teman yang amazing dan seru, yang membantu saya mempelajari beberapa aspek dalam hidup. Dan kalau saja saya dulu memutuskan untuk tidak kuliah di Jogja, mungkin saya nggak akan menyandang “status” sebagai Beswan Djarum, khususnya Beswan Djarum Jogja alias Bedjo, dimana saya bertemu rekan-rekan yang hebat dan brilian. Jadi, mungkin pantas kalau saya mengucapkan: terima kasih, Jogja. For the unforgettable memories :)

A moment lasts all of a second, but the memory lives on forever

Anonymous