company calls epilogue

Kenapa ya orang cenderung ingin menonjolkan (kelebihan) dirinya? Apakah supaya orang lain tahu bahwa “ini lho kelebihan saya, saya bisa begini” atau untuk memuaskan dirinya saja? Bahwa “saya bisa menggunakan kelebihan saya”. Mungkin yg kedua ini pihak pelaku tidak bermaksud secara sengaja menonjolkan diri ya. Tapi menurut saya, gimana pun maksudnya, “menonjolkan diri” itu perlu tempat dan waktu yg tepat.

Contohnya salah satu teman saya, sebut saja L. Jadi begini ceritanya. Di semester 6 ini salah satu dosen saya yg mengampu mata kuliah X memberikan “jatah” magang di apotek kampus sebanyak 24 jam yg harus diselesaikan selama 6 hari kerja. Aturlah waktu sendiri, karena kami sambil kuliah dan mengerjakan hal lainnya (baca: tugas), tegas beliau. Kebetulan saya dapat jatah di minggu pertama bareng 3 teman lainnya. Nah di kuliah X berikutnya ibu dosen menanyakan sedikit pengalaman dari kami yg sudah mulai magang. Jadilah salah satu partner saya cerita. Begini ceritanya, “Waktu itu ada orang dateng, minta obat A untuk alerginya, padahal kurang sesuai. Mbak apoteker bilang, ‘Pake obat B aja’. Obatnya apa gitu, saya lupa, antihistamin juga…”

Eh tiba-tiba teman saya, si oknum L ini  langsung dengan lantangnya bilang, “loratadine”, yg membuat saya saat itu juga mengembangkan cuping hidung dan melirik ke arah dia (yg ternyata sulit karena dia duduknya beberapa baris di belakang saya). Jadi begini riwayat sang oknum L. Memang sih dia bisa dibilang punya pengalaman lebih banyak di bidang komunitas klinis ini. Dia (kayaknya) tiap minggu hijrah ke poskes (pos kesehatan), sepertinya udah lebih bisa berkomunikasi dengan pasien dan lebih tahu tentang obat-obatan dibanding kami yg jarang pergi. Tapi dia juga pernah “bermasalah” dengan “pihak profesional” karena “keagresifannya” itu (kata sang pihak profesional). Kasusnya kurang lebih sama, dokter sedang anamnesis tau-tau tanpa tahu menahu dia main menyodorkan obat ke pasien. Padahal bukan seperti itu etikanya (kembali kata sang pihak profesional). Dan saya pikir memang betul, karena di lingkungan sehari-hari aja kita perlu ber-etika, apalagi dalam dunia kerja, terutama kalo kita ibaratnya orang baru dan bekerja dengan orang-orang yg lebih senior dan lebih “pro”.

Dari situ saya mengambil satu pelajaran, bahwa kita harus pintar-pintar menempatkan diri. Ngga bisa seenaknya, semau gue. Yang penting gue seneng, yang penting ini gue, gue kayak gini. Walaupun mungkin memang kita tahu sesuatu, tapi harus pintar membawa diri supaya “pengetahuan” kita ini ngga disalahartikan sebagai “sok tau”. Ya memang sih mungkin itu relatif, tergantung gimana pihak lain menilai kita. Sedikit nyerempet, tapi mungkin disinilah kita perlu membangun etos “think-do-think”. Berpikirlah sebelum bertindak. Asal ngga kelamaan mikirnya :p