Jogja adalah salah satu kota yang bisa dibilang berkesan untuk saya. Banyak sekali pengalaman menarik dan unforgettable yang terjadi selama (ceritanya) saya kuliah di sini. Tapi pertama, seperti orang-orang pada umumnya, mungkin anda bertanya kenapa saya yang notabene anak Jakarta memilih untuk melancong ke Jogja untuk kuliah, instead of stay di Jakarta atau ke kota lain yang (kata orang) setara dengan Jakarta? Um.. sejujurnya saya sendiri sepertinya kurang punya alasan yang kuat. Waktu itu begitu saja hati saya memilih Jogja #sok puitis. Mungkin saya bosan tinggal di Jakarta, mungkin saya sudah lelah dengan suasana kota Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk dan polusi, yang ada cuma gedung dan gedung, mall dan mall – yah ada tamannya sih, tapi perbandingannya dengan gedung-gedung yang ada cuma seperberapa-nya #malah curhat. Perkiraan saya waktu itu, di Jogja suasananya akan lebih santai, tidak se-hectic di Jakarta. Catat, bukan etos kerjanya lho yang santai, tapi kehidupannya, lingkungannnya, um.. kehidupan sosialisasinya? Maksud saya, antar individu nggak perlu “saling gencet” karena persaingan yang ketat atau apa. Denger-denger kan penduduk Jogja ramah-ramah.. Anyway, setelah cukup perdebatan dengan orang-orang terdekat, akhirnya saya melancong ke Jogja, kuliah di Universitas Sanata Dharma Fakultas Farmasi sampai sekarang, dan ngekost di Paingan, kost 99999 tercinta.
Who knows what could happen
Do what you do
Just keep on laughing
One thing’s true
There’s always a brand new day(Who Knows – Avril Lavigne)
Well, saya di Jogja ngga hanya kuliah pastinya. Kalau iya, menyedihkan sekali :p Terlepas dari apa yang saya dapatkan melalui proses perkuliahan maupun materi kuliah di kampus, mungkin kalau saya nggak jadi kuliah di Jogja, saya nggak akan jadi manusia seperti sekarang. Maksud saya, banyak sekali pengalaman yang melatarbelakangi saya mempunyai ataupun mengembangkan pemikiran tertentu. Mulai dari beradaptasi dengan lingkungan termasuk populasi yang didominasi oleh orang Jawa, masuk ke lingkungan yang sama sekali baru buat saya, bertemu dan berelasi dengan orang-orang yang sangat beragam, dari daerah yang beragam dan pola pikir yang beragam pula. Mulai menarik waktu saya memasuki semester 2. Di awal semester itu, pertama kalinya saya diopname di rumah sakit, dan pertama kalinya saya diinfus. Semuanya karena demam yang tidak kunjung turun akibat alergi obat antipiretik #sigh. Jadinya bukan demamnya turun malah berkembanglah reaksi alergi karena minum ibuprofen. Di akhir semester yang sama, untuk pertama kalinya saya kecelakaan motor alias keserempet, dengan hasil pertama kalinya tulang kaki saya mengalami fraktur. Waktu itu ketika perjalanan pulang dari Ganjuran dan Pantai Depok, karena terlalu ngebut. Keren.
Di Jogja pula, pertama kalinya saya perform di depan orang lumayan banyak, live with the song “Umbrella” popularized by Rihanna – akibat saudara Emmanuel Adit. Lalu di semester 5, untuk kedua kalinya saya kecelakaan motor. Tapi kali ini jatuh, bukan keserempet, akibat teman yang membonceng saya agak error. Hahaha. Hasilnya adalah beberapa luka luar yang tidak parah, dan trauma yang cukup keren. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah saat insiden letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober-November 2011. Saya dan beberapa teman sempat jadi relawan yang terjun langsung ke posko-posko di daerah Kaliurang, sekitar 10-20 km dari Gunung Merapi, selama sekitar 3 minggu. Saat-saat sebagai relawan betul-betul meninggalkan kesan yang tidak terlupakan buat saya (the detail is going to be published soon
). Saya dan beberapa teman beberapa kali menginap di posko yang jaraknya 10 km dari puncak Merapi, tidur-tidur ayam dengan pakaian basah dan kedinginan, pulang saat subuh untuk kuliah jam 7, dan akhirnya tidur saat kuliah. Nggak hanya saat jadi relawan, saat Paingan akhirnya menerima hujan kerikil dan hujan abu pun merupakan unforgettable moment. Hampir semua orang seketika itu juga pulang ke kampungnya atau mengungsi ke kampung siapapun yang bebas dari abu vulkanik Merapi. Saya? Secara tidak langsung terpaksa mengungsi ke Semarang, untuk mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) Beswan Djarum #grin.
Nah yang satu ini juga merupakan pengalaman berharga. Menjadi salah satu dari 350 Beswan Djarum yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Beswan Djarum itu apa? Maybe I’ll tell the detail in another post. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan dengan “status” Beswan Djarum itu. Mulai saja dengan bertemu orang-orang hebat sesama Beswan, terutama Beswan Jogja, yang mempunyai segudang prestasi, pola pikir dan visi yang berbeda-beda dan brilian, sehingga dari situ saya bisa mengambil pelajaran dari mereka, sampai berbagai “fasilitas” dan pelatihan yang diberikan oleh PT Djarum (catat: saya tidak sedang promosi) yang bermanfaat.
Melalui berbagai unforgettable events-slash-moments yang saya terima dan alami, lantas saya berpikir, kalau saja saya dulu memutuskan untuk tidak jadi kuliah di Jogja, mungkin saya tidak akan menjadi relawan dalam bencana alam apapun, karena katakanlah saya kuliah di Jakarta, paling-paling bencana yang melanda adalah banjir, dan banjir-nya pun “sekedar banjir” #bukannya meremehkan. Kalau saya nggak jadi kuliah di Jogja, saya nggak akan bertemu teman-teman yang amazing dan seru, yang membantu saya mempelajari beberapa aspek dalam hidup. Dan kalau saja saya dulu memutuskan untuk tidak kuliah di Jogja, mungkin saya nggak akan menyandang “status” sebagai Beswan Djarum, khususnya Beswan Djarum Jogja alias Bedjo, dimana saya bertemu rekan-rekan yang hebat dan brilian. Jadi, mungkin pantas kalau saya mengucapkan: terima kasih, Jogja. For the unforgettable memories
A moment lasts all of a second, but the memory lives on forever
–Anonymous
hoh…
beswan djarumnya 450 lho la’…yang seratus kamu kemanain??
wakakakak…
wah, sounds like you are leaving jogja…hahaha…
edan, kok bedjo=brilian…
jadi ga enak *sok geer.
wakakakak
baguslah kalau anda senang di jogja…hehe
hoh! astaga.. maaf teman2.. maklum,saya ngepostnya ketika otak dan jari sudah tidak sinkron #alibi
i’m not leaving jogja..yet :p
wakakakakak…
yo gpp, ga usah sedih lho neng…
haha
Mengesankan sekali ceritamu Ella. Senang saya membaca tulisanmu yang ini. Saya juga merasakan hal sama, sangat bersyukur bisa kuliah di Yogyakarta. Cuma, untuk saya sendiri, kuliah di Yogyakarta merupakan keinginan sejak masih di bangku SMA. Waktu itu saya tertarik membaca buku-buku yang ditulis oleh dosen/mahasiswa dari Yogyakarta yang juga di terbitkan oleh penerbit yang ada di Yogyakarta. Akhirnya saya tertarik sekaligus tertantang untuk datang kuliah di Yogyakarta, dengan harapan bisa menjadi orang yang memiliki segudang ilmu pengetahuan (terutama menjadi seorang penulis).
Kenapa Ella tidak menuliskan cerita-cerita inspiratifmu di Blog Beswan Djarum, apakah karena sudah punya blog ini? saya pikir seandainya tulisan kamu yang seperti ini bisa diposting di Blog Beswan Djarum, tentunya akan banyak Beswan Djarum lain yang akan mengapresiasi.
Teruslah menulis Ella, dengan tulisan seperti inilah kita bisa menginspirasi orang lain, atau menimal perjalanan hidup kita tidak hilang begitu saja. Semangat
wah terima kasih nurul!
iya aku ngisi blog yg ini aja. tadinya memang mau dipost ke blog beswan juga rul,tapi nanti sama ceritanya jadi kurang seru kupikir.. hehe
semangat juga nurul!