Gunung Merapi, a nostalgia: part 2

… continued

besok sorenya setelah dapet surat tugas, kami berangkat ke atas sekitar jam 16:30, hujan deras. sempat nyasar, saya dan andin sampai juga di posko utama dan berkumpul dengan temen-temen relawan lain dari farmasi USD. setelah berunding, akhirnya ditetapkan beberapa orang yg bisa dan bersedia untuk menginap, termasuk saya, icha dan andin. lalu ditetapkan personil-personil untuk jaga di tiap posko. kami dibimbing oleh pihak dinkes menuju tiap posko, mulai dari yg paling bawah sampai paling atas. kalau tidak salah ingat total ada 4-5 posko. kebetulan saya, icha, andin (yg kemudian disebut “sepaket”) ditempatkan di pos glagaharjo, sekitar 11 km dari puncak merapi.

jadi relawan, buat saya pribadi, adalah hal yg sangat memorable, tidak terlupakan. terutama di glagaharjo. selama jadi relawan saya ketemu orang-orang baru yg menyenangkan maupun ngga menyenangkan. selama jadi relawan saya pun menghadapi konflik di lapangan, yg mengingatkan saya pada beberapa dosen yg sering bilang “jalan kalian di lapangan itu ngga mulus, pasti kalian banyak menghadapi konflik, baik itu melibatkan kalian atau tidak”. selama jadi relawan saya banyak belajar, terutama mengaplikasikan ilmu yg saya dapet di kuliah, yg menurut saya ngga akan mungkin bisa saya aplikasikan klo saya ngga jadi relawan (kecuali mungkin pas KKN atau PKL). misalnya saya belajar secara langsung menganalisis penyakit pasien. catatan: saya menganalisis, bukan mendiagnosis. mendiagnosis penyakit itu tetap ranah kerja dokter, dan kami farmasis ngga boleh menyimpang. ketika ada pasien yg mendesak perlu obat tapi ngga ada dokter yg memberikan resep, kami setidaknya ngerti obat-obat untuk terapi simptomatik. saya belajar edukasi ke pasien waktu memberikan obat, saya juga diajari mengukur tekanan darah secara intensif oleh dokter, dan saya belajar melakukan homecare ke pasien. selama jadi relawan, terutama di glagaharjo, saya tidur sambil duduk berbalut pakaian basah bekas kehujanan, tanpa selimut, kedinginan. itupun kalau sempat tidur. sebelum matahari terbit kami bangun dan turun kembali ke paingan lalu kuliah. alhasil duduk paling depan dan tidur. maaf, bapak dan ibu dosen.. :p

salah satu hal yg paling saya ingat adalah waktu di glagaharjo, sekitar jam 23:30 ada seorang ibu datang ke posko kesehatan membawa anaknya yg berusia 5 tahun. waktu itu yg sedang jaga malam selain saya, icha dan andin, ada seorang dokter muda. kebetulan saya menemani dokter muda itu waktu memeriksa si anak, tapi saya lebih memerhatikan pemeriksaan dan reaksi si anak. apalagi setelah kami perhatikan, dahi anak itu memar dan agak benjut. ketika mas dokter melakukan pemeriksaan fisik, anak itu tampak mau menangis. saya jadi bersimpati sama si anak (memang dasarnya terharu lihat anak kecil nangis). tapi waktu kami memberikan obat sekaligus edukasi, dan di akhir kami bilang “cepet sembuh ya dek”, adek itu sekilas tersenyum kecil sebelum pergi. saya dan teman-teman malah tertegun dan langsung merasa adem. saya pikir “ya ampun, adeknya senyum”. kami bertiga langsung semacam terharu. setiap kali ingat moment itu saya tersenyum. satu kalimat sederhana “cepat sembuh ya” bisa membuat anak kecil itu tersenyum dan mungkin merasa lebih baik. kali berikutnya kami ke situ, adik itu sudah bermain-main bareng teman-teman sebayanya.

to be continued

Gunung Merapi, a nostalgia: part 1

sudah hampir satu tahun Gunung Merapi terakhir kali meletus. tepatnya tanggal 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus untuk pertama kalinya setelah tahun 2006. letusan yg mengeluarkan wedhus gembel, belum larva pijar, namun sudah menelan cukup banyak korban. saya pertama kali mendengar kabar itu dari TV, sepulang kuliah di sore hari. yap, padahal saya tinggal di jogja dan gunung itu bisa terlihat dari kampus saya, tapi saya tidak langsung tahu kabar itu, karena kegiatan perkuliahan yg padat membuat saya tidak sempat menengok ke arah gunung merapi yg sudah beberapa hari berstatus “awas” (#sok sibuk). sore itu banyak teman saya di luar jogja yg menghubungi saya dan bertanya “lo ngga ngungsi?”, “lo gimana disana? merapi meletus kan?”, “jangan pergi jauh-jauh ya klo ngga ada kepentingan”. nyokap saya sendiri? “oya? merapi udah meletus? mama belum nonton berita daritadi” -.- bokap saya? malam itu belum khawatir. malam itu saya menghabiskan banyak waktu nongkrong di kamar temen kos sambil nonton berita, menunggu kabar selanjutnya dari si merapi. besoknya, sambil naik ke ruang kelas di kampus saya melihat gunung merapi dan berpikir “begitu deketnya ini gunung sama gue, begitu deketnya korban-korban itu dari gue, sama-sama di jogja, tapi gue ngga melakukan apa-apa untuk ngebantu mereka”. dan terpikirlah bahwa seharusnya saya bisa membantu mereka, minimal membantu dari segi finansial. ternyata setelah kuliah pertama selesai salah satu temen menyuarakan ide saya, saat kami sedang ngobrol, “eh kita bantu korban merapi yuk, ngapain kek, masa kita deket gini tapi ngga ngapa-ngapain”. dan ternyata banyak temen yg punya pemikiran yg sama. akhirnya kami sekelas mengedarkan tas yg direlakan untuk jadi kantong uang sukarela. siangnya, kami terima kabar klo ternyata JMKI – Jaringan Mahasiswa Kesehatan Indonesia – di fakultas memang memfasilitasi bantuan berupa uang. maksudnya mereka memang mengedarkan kotak-kotak sumbangan di tiap kelas untuk korban merapi. lebih siang lagi, jam 12, saat kuliah dosen saya bilang bahwa beliau membuka pendaftaran relawan dari fakultas. entah relawan di bagian logistik ataupun langsung terjun ke lokasi, beliau belum membagi. spontan saya dan 3 teman saya mendaftar: icha, andin, grandma toge. sorenya, semua yg berminat jadi relawan kumpul untuk briefing. dan sore itu juga, sebelum briefing, nyokap saya telpon, membahas kabar merapi yg korbannya semakin banyak.

Nyokap: mama baru liat berita, ya ampun, serem ya. kamu lagi dimana?

Saya: di kampus, aku mau jadi relawan ma, bentar lagi briefing

Nyokap: hah, jadi relawan? aduh, hati-hati lho, jangan terlalu deket sama gunungnya, mama khawatir..

Saya: ngga lah ma, penduduknya kan juga udah diungsiin ke tempat yg aman, ngga mungkin di deket gunungnya

setelah briefing, kelompok relawan yg dikoordinir oleh Jono dibagi menjadi 3 kelompok: kesekretariatan, logistik, tim kesehatan. kesekretariatan ngurusin surat-surat ijin sehubungan dengan klo ada relawan yg terpaksa ijin dari kegiatan perkuliahan, dan surat penugasan untuk di posko, juga membuat ID card untuk para relawan (saya sendiri merasa cukup keren karena dapet ID card relawan, macam di tipi-tipi). tim logistik menerima, mendata dan mengirim bantuan berupa barang yg datang. tim kesehatan langsung terjun ke posko-posko yg ada untuk membantu petugas kesehatan lain (dokter, perawat). sore itu diputuskan beberapa relawan pergi ke lokasi untuk survey obat-obatan. beberapa mahasiswi profesi, beberapa mahasiswi 2007, dan beberapa mahasiswi 2008 termasuk saya dan 3 teman saya. situasi di atas (daerah Kaliurang) waktu itu masih hujan abu.

kami pulang ke kost masing-masing untuk siap-siap. reaksi anak-anak kost saya, “mau kemana?”

saya: ke atas,survey obat

mereka: oh,jadi relawan?

saya: iya

mereka: hati-hati ya,saya doakan semoga selamat!

saya: … amin

saat kami semua sudah berkumpul di hall utara, Jono (setelah terima telpon) bilang, “temen-temen, barusan aku hubungi pihak di posko, katanya kita ngga bisa kesana tanpa surat tugas”. Jono coba hubungi Pak Ipang selaku dekan fakultas mengenai surat tugas, tapi beliau ngga bisa dihubungi. akhirnya kami memutuskan menunda keberangkatan sampai besok, menunggu surat tugas dulu. saya, icha, andin, grandma malah balik arah ke XXI nonton R.E.D :p

– to be continued…

Yogyakarta

Jogja adalah salah satu kota yang bisa dibilang berkesan untuk saya. Banyak sekali pengalaman menarik dan unforgettable yang terjadi selama (ceritanya) saya kuliah di sini. Tapi pertama, seperti orang-orang pada umumnya, mungkin anda bertanya kenapa saya yang notabene anak Jakarta memilih untuk melancong ke Jogja untuk kuliah, instead of stay di Jakarta atau ke kota lain yang (kata orang) setara dengan Jakarta? Um.. sejujurnya saya sendiri sepertinya kurang punya alasan yang kuat. Waktu itu begitu saja hati saya memilih Jogja #sok puitis. Mungkin saya bosan tinggal di Jakarta, mungkin saya sudah lelah dengan suasana kota Jakarta yang penuh dengan hiruk pikuk dan polusi, yang ada cuma gedung dan gedung, mall dan mall – yah ada tamannya sih, tapi perbandingannya dengan gedung-gedung yang ada cuma seperberapa-nya #malah curhat. Perkiraan saya waktu itu, di Jogja suasananya akan lebih santai, tidak se-hectic di Jakarta. Catat, bukan etos kerjanya lho yang santai, tapi kehidupannya, lingkungannnya, um.. kehidupan sosialisasinya? Maksud saya, antar individu nggak perlu “saling gencet” karena persaingan yang ketat atau apa. Denger-denger kan penduduk Jogja ramah-ramah.. Anyway, setelah cukup perdebatan dengan orang-orang terdekat, akhirnya saya melancong ke Jogja, kuliah di Universitas Sanata Dharma Fakultas Farmasi sampai sekarang, dan ngekost di Paingan, kost 99999 tercinta.

Who knows what could happen
Do what you do
Just keep on laughing
One thing’s true
There’s always a brand new day

(Who Knows – Avril Lavigne)

Well, saya di Jogja ngga hanya kuliah pastinya. Kalau iya, menyedihkan sekali :p Terlepas dari apa yang saya dapatkan melalui proses perkuliahan maupun materi kuliah di kampus, mungkin kalau saya nggak jadi kuliah di Jogja, saya nggak akan jadi manusia seperti sekarang. Maksud saya, banyak sekali pengalaman yang melatarbelakangi saya mempunyai ataupun mengembangkan pemikiran tertentu. Mulai dari beradaptasi dengan lingkungan termasuk populasi yang didominasi oleh orang Jawa, masuk ke lingkungan yang sama sekali baru buat saya, bertemu dan berelasi dengan orang-orang yang sangat beragam, dari daerah yang beragam dan pola pikir yang beragam pula. Mulai menarik waktu saya memasuki semester 2. Di awal semester itu, pertama kalinya saya diopname di rumah sakit, dan pertama kalinya saya diinfus. Semuanya karena demam yang tidak kunjung turun akibat alergi obat antipiretik #sigh. Jadinya bukan demamnya turun malah berkembanglah reaksi alergi karena minum ibuprofen. Di akhir semester yang sama, untuk pertama kalinya saya kecelakaan motor alias keserempet, dengan hasil pertama kalinya tulang kaki saya mengalami fraktur. Waktu itu ketika perjalanan pulang dari Ganjuran dan Pantai Depok, karena terlalu ngebut. Keren.

Di Jogja pula, pertama kalinya saya perform di depan orang lumayan banyak, live with the song “Umbrella” popularized by Rihanna – akibat saudara Emmanuel Adit. Lalu di semester 5, untuk kedua kalinya saya kecelakaan motor. Tapi kali ini jatuh, bukan keserempet, akibat teman yang membonceng saya agak error. Hahaha. Hasilnya adalah beberapa luka luar yang tidak parah, dan trauma yang cukup keren. Dan yang paling berkesan bagi saya adalah saat insiden letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober-November 2011. Saya dan beberapa teman sempat jadi relawan yang terjun langsung ke posko-posko di daerah Kaliurang, sekitar 10-20 km dari Gunung Merapi, selama sekitar 3 minggu. Saat-saat sebagai relawan betul-betul meninggalkan kesan yang tidak terlupakan buat saya (the detail is going to be published soon :D). Saya dan beberapa teman beberapa kali menginap di posko yang jaraknya 10 km dari puncak Merapi, tidur-tidur ayam dengan pakaian basah dan kedinginan, pulang saat subuh untuk kuliah jam 7, dan akhirnya tidur saat kuliah. Nggak hanya saat jadi relawan, saat Paingan akhirnya menerima hujan kerikil dan hujan abu pun merupakan unforgettable moment. Hampir semua orang seketika itu juga pulang ke kampungnya atau mengungsi ke kampung siapapun yang bebas dari abu vulkanik Merapi. Saya? Secara tidak langsung terpaksa mengungsi ke Semarang, untuk mengikuti Silaturahmi Nasional (Silatnas) Beswan Djarum #grin.

Nah yang satu ini juga merupakan pengalaman berharga. Menjadi salah satu dari 350 Beswan Djarum yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Beswan Djarum itu apa? Maybe I’ll tell the detail in another post. Banyak sekali yang sudah saya dapatkan dengan “status” Beswan Djarum itu. Mulai saja dengan bertemu orang-orang hebat sesama Beswan, terutama Beswan Jogja, yang mempunyai segudang prestasi, pola pikir dan visi yang berbeda-beda dan brilian, sehingga dari situ saya bisa mengambil pelajaran dari mereka, sampai berbagai “fasilitas” dan pelatihan yang diberikan oleh PT Djarum (catat: saya tidak sedang promosi) yang bermanfaat.

Melalui berbagai unforgettable events-slash-moments yang saya terima dan alami, lantas saya berpikir, kalau saja saya dulu memutuskan untuk tidak jadi kuliah di Jogja, mungkin saya tidak akan menjadi relawan dalam bencana alam apapun, karena katakanlah saya kuliah di Jakarta, paling-paling bencana yang melanda adalah banjir, dan banjir-nya pun “sekedar banjir” #bukannya meremehkan. Kalau saya nggak jadi kuliah di Jogja, saya nggak akan bertemu teman-teman yang amazing dan seru, yang membantu saya mempelajari beberapa aspek dalam hidup. Dan kalau saja saya dulu memutuskan untuk tidak kuliah di Jogja, mungkin saya nggak akan menyandang “status” sebagai Beswan Djarum, khususnya Beswan Djarum Jogja alias Bedjo, dimana saya bertemu rekan-rekan yang hebat dan brilian. Jadi, mungkin pantas kalau saya mengucapkan: terima kasih, Jogja. For the unforgettable memories:)

A moment lasts all of a second, but the memory lives on forever

Anonymous

company calls epilogue

Kenapa ya orang cenderung ingin menonjolkan (kelebihan) dirinya? Apakah supaya orang lain tahu bahwa “ini lho kelebihan saya, saya bisa begini” atau untuk memuaskan dirinya saja? Bahwa “saya bisa menggunakan kelebihan saya”. Mungkin yg kedua ini pihak pelaku tidak bermaksud secara sengaja menonjolkan diri ya. Tapi menurut saya, gimana pun maksudnya, “menonjolkan diri” itu perlu tempat dan waktu yg tepat.

Contohnya salah satu teman saya, sebut saja L. Jadi begini ceritanya. Di semester 6 ini salah satu dosen saya yg mengampu mata kuliah X memberikan “jatah” magang di apotek kampus sebanyak 24 jam yg harus diselesaikan selama 6 hari kerja. Aturlah waktu sendiri, karena kami sambil kuliah dan mengerjakan hal lainnya (baca: tugas), tegas beliau. Kebetulan saya dapat jatah di minggu pertama bareng 3 teman lainnya. Nah di kuliah X berikutnya ibu dosen menanyakan sedikit pengalaman dari kami yg sudah mulai magang. Jadilah salah satu partner saya cerita. Begini ceritanya, “Waktu itu ada orang dateng, minta obat A untuk alerginya, padahal kurang sesuai. Mbak apoteker bilang, ‘Pake obat B aja’. Obatnya apa gitu, saya lupa, antihistamin juga…”

Eh tiba-tiba teman saya, si oknum L ini  langsung dengan lantangnya bilang, “loratadine”, yg membuat saya saat itu juga mengembangkan cuping hidung dan melirik ke arah dia (yg ternyata sulit karena dia duduknya beberapa baris di belakang saya). Jadi begini riwayat sang oknum L. Memang sih dia bisa dibilang punya pengalaman lebih banyak di bidang komunitas klinis ini. Dia (kayaknya) tiap minggu hijrah ke poskes (pos kesehatan), sepertinya udah lebih bisa berkomunikasi dengan pasien dan lebih tahu tentang obat-obatan dibanding kami yg jarang pergi. Tapi dia juga pernah “bermasalah” dengan “pihak profesional” karena “keagresifannya” itu (kata sang pihak profesional). Kasusnya kurang lebih sama, dokter sedang anamnesis tau-tau tanpa tahu menahu dia main menyodorkan obat ke pasien. Padahal bukan seperti itu etikanya (kembali kata sang pihak profesional). Dan saya pikir memang betul, karena di lingkungan sehari-hari aja kita perlu ber-etika, apalagi dalam dunia kerja, terutama kalo kita ibaratnya orang baru dan bekerja dengan orang-orang yg lebih senior dan lebih “pro”.

Dari situ saya mengambil satu pelajaran, bahwa kita harus pintar-pintar menempatkan diri. Ngga bisa seenaknya, semau gue. Yang penting gue seneng, yang penting ini gue, gue kayak gini. Walaupun mungkin memang kita tahu sesuatu, tapi harus pintar membawa diri supaya “pengetahuan” kita ini ngga disalahartikan sebagai “sok tau”. Ya memang sih mungkin itu relatif, tergantung gimana pihak lain menilai kita. Sedikit nyerempet, tapi mungkin disinilah kita perlu membangun etos “think-do-think”. Berpikirlah sebelum bertindak. Asal ngga kelamaan mikirnya :p

 

relationship status: married

Semua orang tahu bahwa pernikahan adalah sakral – terlepas dari pro-kontra pernikahan seseorang yg masih berstatus married terhadap orang lain. Di samping itu, pasti pernah juga mendengar atau bahkan menyaksikan pernikahan yg dibatalkan. Bukan ditunda, tapi dibatalkan. Entah satu bulan sebelumnya, satu minggu sebelumnya, satu hari sebelum hari H yg ditentukan, atau bahkan saat hari H. Sampai kemarin saya cuma pernah mendengar cerita dari orang-orang tentang kenalannya atau tayangan infotainment tentang artis yg batal menikah. Saya ngga pernah menduga akan mendengar kabar itu dari pihak yg masih keluarga saya. Sampai sekarang saya masih memikirkan saudara saya itu. Bukannya kepo, mau ikut campur urusan orang, atau mau tahu masalahnya, tapi apapun masalahnya pasti berat dan fatal sampai pihak calon mempelai sendiri bisa memutuskan untuk membatalkan pernikahan yg tinggal 24 jam lagi. Mungkin saya lebih bersimpati daripada penasaran. Karena bayangkan aja, gimana perasaan kedua calon mempelai saat mereka sudah mempersiapkan semuanya mulai dari wedding organizer, tempat, catering, baju, undangan. Dan H-1 mereka harus menghubungi semua tamu undangan bahwa pernikahan dibatalkan. Let’s put it away deh soal persiapan dan biaya dan isu yg muncul, tapi bayangkan gimana perasaan mereka ketika sejak memutuskan untuk menikah mereka sudah merasa bahwa they were meant for each other. Saya rasa setiap pasangan yg sudah memutuskan untuk menikah merasa bahwa mereka sudah menemukan jodohnya, bahwa mereka masing-masing adalah jodoh untuk yg lain. Tapi di saat terakhir mungkin ada sesuatu yg baru mereka – atau salah satu – tahu yg membuat mereka membatalkan (rencana) pernikahan mereka. Yah, saya membayangkan aja kalo saya di posisi mereka. Memang agak rancu sih, dimana kalo dipikir-pikir pasangan yg sudah memutuskan untuk menikah kan pasti melewati masa penyesuaian dulu, yg disebut masa pacaran. Pada masa pacaran itu setiap pasangan (seharusnya) lebih mengenal “dalem-dalemnya, busuk-busuknya” pasangannya. Nah ketika mereka sudah mengenal pasangannya dan sudah bersedia menerima “borok” pasangannya, baru deh mereka mantap memutuskan untuk menikah dgn pasangannya. Tapi mungkin beda-beda menurut orang lain. Which made me think, jodoh itu betul-betul misteri Tuhan ya. Kita ngga pernah tahu siapa yg akan jadi jodoh kita. Tapi saya jadi teringat kata dosen saya, “Tuhan sudah menyediakan jodoh untuk tiap orang. Pria disediakan wanita, wanita disediakan pria. Tinggal kita yg memilih.” Jadi?

“Remember that a successful marriage depends on two things: finding the right person and being the right person” -Anonymous

life is a scenario

pernah membayangkan seandainya hidup kita sebuah film? jangan sinetron lah ya, kok kayaknya kurang elite. entah film drama, film action, atau mungkin science fiction. klo film horror kok kayaknya serem banget, klo film fantasy kok kayaknya keren banget. pernah saya membayangkan, seandainya hidup saya seperti film. bukan jalan ceritanya – drama, action, atau science fiction – tapi lebih seperti ini: dalam film, tokoh utama sudah tahu bagaimana ia harus bersikap dalam menghadapi suatu konflik yg sedang dia hadapi, misalnya. maksud saya, klo kita menonton sebuah film, kita menyaksikan bagaimana awalnya si tokoh utama hidup, menjalankan aktivitasnya. lalu ketika dia menghadapi suatu konflik, yg biasanya membuat dia berefleksi, introspeksi, akhirnya menyadari sesuatu dan menyesal (klo ini sih biasanya di film drama mungkin ya). kemudian dia melakukan sesuatu untuk menyelesaikan konfliknya, lalu tamat. happy ending is the most. saya pikir, kok enak banget, tau2 udah menemukan jalan keluarnya. atau mungkin dalam beberapa film, tokoh utamanya yg di awal film masih kecil, tiba2 di tengah2 film udah remaja atau bahkan dewasa. ya memang, itu udah jalan ceritanya. tapi dari situlah saya berpikir, enak kali ya klo hidup kita seperti film-film itu. ketika kita punya masalah, kita udah tau akan bagaimana nantinya jalan keluar yg kita ambil, atau minimal yg harus kita ambil.

ketika itulah saya sampai pada pemikiran, hidup kita ini memang seperti sebuah film, atau sebuah buku. hanya saja klo film itu berdasarkan skenario yg ditulis oleh penulis script, klo buku jalan ceritanya ditulis oleh penulisnya (atau sekarang ini banyak film yg “diterjemahkan” dari buku), klo jalan cerita hidup kita ditulis oleh Tuhan, sebagai pencipta dan penyelenggara hidup kita. yg pasti bahwa kelahiran, jodoh, dan kematian adalah hal yg sudah dituliskan oleh Tuhan dalam hidup kita. dan klo dalam hidup kita, kita udah tau akan jadi apa kita ketika dewasa nanti, bagaimana kita saat tua nanti, siapa pasangan hidup kita kelak, mungkin itu bukanlah hidup. ketika hidup kita menjadi seperti itu, perhaps life becomes meaningless. perhaps it is called a life, karena kita memang harus menghadapi yg namanya konflik, permasalahan, naik-turun, senang, bahagia, patah hati, duka, dan itu semua membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik ke depannya. saya pikir, mungkin hal-hal seperti itu yg membuat hidup menjadi lebih hidup. ketika hidup dihadapkan pada segala kemudahan dan hal-hal praktis, perjuangan untuk menjalani hidup mungkin menjadi kurang berarti.

some stories don’t have a clear beginning, middle, and end. life is about not knowing, having to change, taking the moment and making the best of it, without knowing what’s going to happen next. -Gilda Radner

bi(a)sa

menurut gue, hal-hal yang kita lakukan – kalo bukan semuanya – berdasarkan pada kebiasaan. tentunya bukan bernapas, dan mungkin juga bukan makan. mungkin pernyataan itu bisa juga dihubungkan dengan rutinitas. contohnya begini: ngga bisa jauh dari rumah, misalnya saat harus kuliah di luar kota dan ngekost? bukan ngga bisa, tapi belum biasa. biasanya di rumah, sering kumpul dengan orang rumah, selalu ada teman ngobrol, ada teman makan, ada teman nonton TV, ada teman tidur, ada teman mandi (sambil ngobrol dari luar maksudnya). tiba-tiba harus jauh dari rumah dan ngekost, dimana banyak dari hal di atas yang berubah. bukan ngga bisa, tapi hanya masalah waktu. ngga bisa bersih-bersih kamar sendiri, karena biasanya di rumah tugas bersih-bersih itu udah diambil alih orang lain? bukan ngga bisa, hanya masalah waktu aja untuk belajar dan biasa melakukan hal itu. sedih karena putus sama pacar? itu memang bukan karena kebiasaan sih, masa sayang sama pacar karena kebiasaan? maksudnya adalah ngga bisa ngelupain pacar. susah ngelupain pacar, karena waktu masih “in a relationship” hampir tiap hari ketemu dan barengan (atau buat yang LDR hampir tiap saat smsan), tiap malem minggu pacaran (buat yang LDR, minimal telponan atau video calling), kalo ada apa-apa langsung “ngadu” ke pacar. tapi setelah putus, semua itu menghilang. yang ada kita jadi mewek tiap inget hal-hal yang berhubungan sama mantan pacar. tapi susah melupakan bukan berarti ngga bisa. memang benar kata orang-orang, hal-hal seperti itu tinggal masalah waktu. “biar waktu yang bertindak”, “biar waktu yang menyelesaikan semuanya”. maksudnya sih bukannya berarti supaya kita ngga berusaha, tapi kadang usaha yang dipaksakan malah membuat kita semakin sulit untuk mencapai tujuan yang diinginkan – misalnya ya melupakan seseorang itu – dan lebih baik menyerahkan kepada sang waktu untuk membawa pergi semua kenangan dan kebiasaan terdahulu itu, mungkin untuk menumpuknya dengan kebiasaan yang baru. mungkin bisa juga begini: anda punya teman dekat, yang tiap hari smsan dengan anda. tapi suatu saat dia ngga lagi membalas sms anda sesering biasanya. anda mulai berpikir bahwa dia ngga lagi berminat berteman dengan anda atau mulai melupakan anda, tapi yang perlu anda ketahui dan mengerti hanya bahwa dia punya kesibukan lain yang juga penting, yang cukup menyita waktunya untuk ber-smsan ria lagi dengan anda. mungkin saat itu anda merasa bahwa diri anda dinomorduakan. lalu sejak saat itu frekuensi smsan anda dengan dia berkurang, dan seiring berjalannya waktu anda pun sudah ngga lagi mempermasalahkan frekuensi smsan kalian yang lebih sedikit dibanding sebelumnya. itu artinya anda sudah terbiasa dengan kondisi frekuensi sms yang lebih sedikit bukan? begitulah. atau kalo anda punya pacar yang gemar main-main dengan mobilnya (demen otomotif maksudnya) dan anda merasa ditelantarkan, jangan. jadi kalau anda merasa ditelantarkan atau malah merasa kesal dengan keadaan semacam itu, berpikirlah “ah lama-lama juga ntar gue biasa”. trust me, it works. sama dengan sebaliknya, kalo dari awal kita ngga punya rutinitas atau kebiasaan atau frekuensi yang segitu seringnya dalam berhubungan dengan seseorang, maka ketika frekuensi itu tiba-tiba bertambah, misalnya teman kita tiba-tiba jadi tanya “udah makan belom?” padahal sebelumnya ngga pernah, kita akan berpikir “lho? aneh deh”. padahal kita merasa aneh itu karena tidak biasa, karena sebelumnya tidak seperti itu.

“First we form habits then they form us.”
Dr. Rob Gilbert